TASAWUF
DAN TAREKAT DALAM AGAMA ISLAM
A. Pengertian
Tasawuf
Dilihat dari
segi bahasa, Tasawuf berasal dari kata Shofa yang berarti bersih dan suci.
Sedangkan menurut pengertian istilah, Tasawuf ialah “Ilmu yang mengajarkan
tentang kebersihan dan kesucian hati dengan membersihkan diri dari sifat-sifat
tercela serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, sehingga hati yang
bersih tersebut dapat melihat Allah SWT”. Jadi Tasawuf merupakan salah satu
bagian yang tak terpisahkan dari totalitas ajaran islam yang meliputi akidah,
syari’ah dan akhlak (tasawuf). Ia merupakan ruh bagi agama Islam, karena ia
mengajarkan kepada umat manusia agar berusaha memperoleh pengalam batin, rasa
serta jiwa agama dengan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, menghiasinya
dengan sifat-sifat terpuji serta melaksanakan amalan ibadah dengan khusu’ dan
penuh peng-hayatan bukan hanya memenuhi segi-segi formalnya.
Di
lihat dari aspek bahasa, tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara
kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan
selalu bersikap bijaksana. Sikap dan jiwa yang demikian itu pada hakikatnya
merupakan akhlak mulia. Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah atau
pendapat para ahli amat bergantung kepada sudut pandang yang digunakannya
masing-masing. Selama ini ada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk
mendifinisikan tasawuf, yaitu sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas,
manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, dan manusia sebagai makhluk yang
berke- Tuhan-an. jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang
terbatas, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan
cara menjauhkan pengaruh kehidupan kehidupan dunia, dan memusatkan perhatian
hanya kepada Allah SWT.
Selanjutnya
jika sudut pandang yang digunakan manusia sebagai makhluk yang harus berjuang,
maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak
yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
SWT. Dan jika sudut pandang yang
digunakan manusia sebagai makhluk yang berke-Tuhan-an , maka tasawuf dapat
didefinisikan sebagai kesadaran fitrah ke-Tuhan-an yang dapat mengarahkan jiwa
agar tertuju pada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.
B. Sejarah
Munculnya Tasawuf
Dalam
Agama Islam terdapat 3 (tiga) ajaran pokok yang wajib diketahui, diyakini dan
diamalkan oleh seluruh pemeluknya tanpa kecuali. Ketiga ajaran pokok tersebut
adalah: Pertama,ajaran tentang
keimanan (keyakinan dan kepercayaan) akan adanya Allah SWT. Dzat yang Maha Esa,
para Malaikat, para Rasul, Kitab-Kitab Suci, Hari Kiamat serta Qadha dan Qadar
Allah, yang dibahas oleh ilmu Ushuluddin (ilmu Akidah/Kalam/Tauhid). Kedua , ajaran tentang hukum-hukum
formal yang mengatur tata cara beribadah kepada Allah SWT. (HablumMinallah)
serta bermu’amalah antar sesama umat manusia (HablumMinannas) yang dipelajari
oleh ilmu fiqih (Ilmu Syari’at), Ketiga, ajaran
tentang kebersihan jiwa, kesucian hati serta keluhuran budi untuk mencapai
ma’rifat kepada Allah SWT. Serta melihat Dzat-Nya dengan mata hati, yang
dipelajari oleh ilmu Akhlak (Tasawuf).
Tasawuf
pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan
dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (berbagai
aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang
lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi[butuh rujukan]. Pemikiran Sufi
muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke
seluruh belahan dunia. Sufisme merupakan sebuah konsep dalam Islam, yang
didefinisikan oleh para ahli sebagai bagian batin, dimensi mistis Islam, yang
lain berpendapat bahwa sufisme adalah filosofi perennial yang eksis sebelum
kehadiran agama, ekspresi yang berkembang bersama agama Islam. Dengan melihat
perkembangannya maka akan jelas kehilatan warna tasawuf itu dalam setiap
periode yang dilaluinya. Sebagai contoh, cikal bakal tasawuf itu hanya
mengambil bentuk zuhud, tetapi dalam periode berikutnya, tasawuf telah nampak
dalam bentuk kajian-kajian keruhanian yang mendalam sebagai hasil dari
perkembangan pemikiran Islam.
Dari
beberapa penjelasan definisi tasawuf di atas dapat ditarik benang merah bahwa
pada dasarnya ajaran-ajaran tasawuf murni berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah.
Seorang sufi adalah seorang yang konsisten mengerjakan dan berpegang teguh
dengan syari’at Allah, mengekang hawa nafsunya pada makan, minum, cara
berpakaian, dan hal-hal lainnya. Dalam perkara-perkara duniawi seorang sufi
hanya mengambil kadar tertentu secukupnya. Ia habiskan setiap waktu dari
kehidupannya dalam beribadah kepada Allah, dengan melaksanakan segala
kewajiban-kewajiban, menjauhi segala larangan-langan-Nya dan memperbanyak
perbuatan-perbuatan yang sunnah.
Tahapan-Tahapan Ajaran Tasawuf
Dalam
Tasawuf ada ajaran-ajaran yang harus dilakukan yakni dengan tiga ajaran, Ketiga
ajaran Tasawuf tersebut ialah :
1. Membersihkan
diri dari sifat-sifat tercela serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang
oleh Allah SWT. Diantara sifat-sifat tercela yang harus dihindari ialah: riya’(pamer ingin dipuji manusia dalam
beribadah dan berbuat baik), Ujub
(mengagumi kehebatan diri sendiri), Takabur
(sombong), Kadzib(bohong), Bakhil (pelit), Munafiki, DzulWajhain (bermuka
dua), Hasad (Iri hati), Tajassus(mencari kesalahan-kesalahan
orang lain) dan sebagainya. Menurut para ahli Tasawuf , sifat-sifat tercela
tersebut merupakan najis maknawi yang
dapat menghalangi seseorang untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah
SWT. Sebagaimana halnya najis lahiriah yang dapat menghalangi seseorang untuk
melaksanakan ibadah sholat.
2. Menghiasi
diri dengan sifat-sifat terpuji, seperti ikhlas (beramal semata-semata karena
Allah SWT), ridha (Rela terhadap pemberian Allah SWT.), syukur terhadap nikmat
yang telah diberikan Allah SWT, sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian dari
Allah SWT, tawakkal (berserah diri kepada Allah SWT), tawadhu’ (rendah diri), amanah
(terpercaya), adil, husnuzhzhan
(berbaik sangka kepada Allah SWT. Dan sesama umat manusia), sakhawah (dermawan), zuhud (menhindari kemewahan dan
berfoya-foya), dan sebagainya.
Para ulama
tasawuf membagi ikhlas ke dalam tiga tingkatan. Sebagimana dijelaskan oleh
Syekh Ibnu AthailahAl-Iskandar dalam kitabnya “SyarahHikam” Juz 1 halaman 9-10 sebagai berikut:
a.
Ikhlasnnya orang awam,
yaitu amal perbuatan yang terhindar dari riya’ serta dilakukan semata-mata
karena mengharapkan pahala (surga) dan diselamatkan dari neraka.
b.
Ikhlasnya para muhibbin (orang-orang yang mencintai
Allah), yaitu amal perbuatan (ibadah) yang dilakukan semata-mata karena
mengagungkan Allah SWT, -Karena Dia Dzat
yang berhak unuk di agungkan bukan karena ingin memperoleh pahala atau
akut terhadap siksa.
c.
Ikhlasnya para ‘arifin (orang-orang yang telah mencapai
ma’rifat kepada Allah SWT), yaitu amal perbuatan yang dilakukan semata-mata
karena persaksian mereka (dengan mata hati) atas ke- Esa-an Allah SWT. Yang
menggerakanserta mendiamkan diri mereka. Mereka merasa tidak memilih daya
kekuatan, seluruh amal perbuatannya adalah semata-mata pertolongan Allah SWT.
3. Beribadah
dengan khusyu’ dan penuh penghayataan, hingga mencapai pengalaman batin dan ruh
(jiwa) beragama yang dapat mengantarkan hati untuk melihat Allah SWT.
Ketiga
ajaran yang harus dilakukan oleh orang-orang yang yang ingin mencapai derajat
kerohanian yang tinggi diatas, adalah merupakan inti ajaran tasawuf.
Sebagaimana yang dirumuskan Imam Abu
YazidAl-Busthami, “Inti ajaran Tasawuf ialah: membersihkan diri dari akhlak
yang tercela, menghiasinya dengan akhlak yang terpuji serta melihat (dengan
mata hati) terhadap Allah SWT Dzat Yang Mengatur seluruh alam semesta”.
Metode-Metode
Tasawuf (Tarekat)
Untuk
mencapai tingkat tertinggi dari ajaran tasawuf tersebut, -yakni ma’rifat kepada
Allah SWT dalam tasawuf sunni dan ittihaddalam
tasawuf nonsunni- bukanlah suatu hal
yang mudah. Karena itulah orang yang ingin mencapainya harus menempuh jalan
panjang yang terdiri dari beberapa tingkatan pengalam rohani yang lazim disebut
maqamat (station-station). Untuk memudahkan kaum
muslimin-muslimat dalam mencapai station-station
tersebut, maka para ulama tasawuf yang
telah mencapai puncak pengalaman kerohanian diatas, merumuskan metode-metode
atau amalan-amalan yang telah ditempuhnya yang dikenal dengan istilah thariqah (tarekat).
Ditinjau
dari segi bahasa, thariqberarti jalan
atau metode . Sedangkan menurut pengertian yang berkembang di kalangan ahli
tasawuf, thariqadalah “jalan atau
metode atau petunjuk untuk mendekatkan diri (bertaqarrub) kepada Allah SWT.
Baik melalui aktifitasDzikir maupun amalan-amalan yang lain. Sesuai dengan apa
yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. “ Oleh karena
metode-metode tersebut secara operasional dirumuskan oleh ulama ahli tasawuf,
maka nama-nama thariqah tersebut dinisbatkan kepada mereka . Pada saat sekarang
ini, jumlah thariqah tidak kurang dari 40 buah. Diantaranya yang palling
terkenal ialah : thariqahNaqsyabandiyah, ThariqahQadariyah,
ThariqahSyadziliyah, dan sebagainya.
Aktifitasdzikir
tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara ThariqatNaqsyabandiyah misalnya, lebih
mengutamakan penyebutan lafadz Allah di dalam hati tanpa ada suara yang keluar
(dzikirkhafi). TharikatQadiriyah
mengajarkan penyebutan lafadz Allah dengan suara (dzikirjahri). Sedangkan
TharikatSyadziliysh lebih mengutamakan dzikirnaïf (meniadakan selain Allah) dan
itsbat (menetapkan adanya Allah) dengan lafadz :La IllahaIllallah. Semua
dzikir tersebut dilakkukan sedemikian rupa, sehingga mengalir keseluruh bagian
tubuh, sebagaimana mengalirnya darah dalam tubuh kita.
Para
ulama tasawuf berbeda-beda dalam menempuh jalan (thariqah) untuk mencapai tingkat
tertinggi ajaran tasawuf, baik dalam pendekatan maupun dalam merumuskan
beberapa tingkatan-tingkatan pengalaman rohani (station-statio/maqamat). Diantarathariqah yang dipergunakan untuk
mencapai tingkat tertinggi ajaran tasawuf ialah :
1) Melalui
latihan jiwa yang paling rendah yang disebut dengan Nafsu Ammarahke tingkat Nafsu
Lawwamah,meningkat ke Nafsu
Muth’mainnah, kemudian ketingkatNafsu
Mulhamah, kemudian naik ke Nafsu
Mardhiyah, dan akhirnya sampai ketingkatNafsu
Kamaliyah.
2) Melalui
aktifitasdzikir, yang meningkatkan diri maqam(station) paling rendah ke maqam yang
paling tinggi. Dimulai dari maqam ihsan,
meningkat kepada maqamahadiyah,
meningkat ke maqamilmiyah, meningkat
ke maqamfa’iliyah, kemudian maqammalakiyah meningkat ke maqamhayatiyah dan akhirnya ke maqammahbuyah, yang dapat membawa
sesorang ke maqammuraqabatu tauhid
syuhudi, dimana seseorang dapat melihat Allah dengan mata hatinya.
3) Melalui
jalan MartabahAth-Thariqah, yang
terdiri dari beberapa maqam (station),
meliputi : zuhud, sabar, tawakkal, ridha, mahabbah, dan ma’rifah.
C. Tingkatan Tasawuf
Dalam tingkatan
Tasawuf, para ahli tasawuf berbeda pendapat tentang tingkatan tertinggi yang
dapat dicapai oleh seseorang yang bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah
SWT.
1)
Menurut para ahli
tasawuf sunni,- seperti Imam Al- Gazali dan Al-Junaidi – tingkat tertinggi yang
dapat dicapai sesorang dalam bertaqarrub kepada Allah SWT adalah ma’rifahkepada Allah SWT dan penghayatan
terhadap alam ghaib(kasyaf) serta memperoleh
ilmu ladunni (langsung dari Allah
melalui kasyaf tanpa belajar). Faham
ini masih mempertahankan sendi dasar ajaran tauhid yang membedakan danya dua
pola wujud, yakni wajib al-wujud (Tuhan) dan mukmin al-wujud(makhluk) dua wujud secara
fundamental berbeda, serta prinsip ketidak serupaan manusia dengan Tuhan.
2)
Menurut ahli tasawuf nonsunni, -Seperti Al-Hallaj,
Ibnu ‘Arabi dan Syeh Siti Jenar- seseorang yang mensucikan dirinya dari
sifat-sifat tercela, melenyapkan nafsu-nafsu yang bersemayam dalam dirinya,
maka ia tidak hanya mencapi tingkat ma’rifah
kepada Allah SWT, tetapi lebih jauh dari itu, ia dapat bersatu dengan-Nya, (ittihad) . Karena di dalam diri manusia terdapat
ruh yang berasal darai zat Allah ( lihat surah Al-Hajr ayat 29, As-Sajdah ayat
9 dan Shaad ayat 72). Faham ini disebut DahamWahdatul
Wujud ( kesatuan wujud manusia denga Tuhan/ ManunggalingKawuloLan Gusti ).
Meskipun
jalan (cara/metode/tarekat) yang ditempuh oleh para ahli tasawuf untuk mencapai
puncak kerohanian berbeda-beda, baik dari segi pendekatan maupun dari segi
jumlah station-station (maqamat)-Nya, akan tetapi dapat ditarik keseragaman
yang telah diakui kebenarannya oleh para ulama tasawuf, yaitu :
1).
MaqamSyari’at, Pada maqam ini, seseorang mukmin telah berusaha mempelajari dan
mengamalkan hukum-hukum formal yang mengatur tata cara beribadah kepada Allah
SWT serta bermu’amalh dengan sesama umat manusia.
2).
MaqamThariqat.Padamaqam ini seorang mukmin telah berusaha meningkatkan ibadah
dan mu’amalahnya dari sekedar memenuhi tata cara formal, menuju tingkat
hakekat. Hal ini harus dilakukan dengan petunjuk dan bimbingan guru thariqat
(mursyid) yang akan menunjukan segala rahasia amal ibadah dengan melakkukan
latihan &riyadhah dalam berbagai persoalan agama.
3).
MaqamHakekat. Pada maqam ini, seorang
mukmin telah mengetahui dan mengamalkan hakekat ibadah dan mu’amalah, sehingga
memiliki keimanan yang mantap yang mengantarkannya pada maqam ma’rifat.
4).
MaqamMa’rifat. Pasamaqam ini, seorang
mukmin telah mengenal, mengetahui serta melihat Allah dengan mata hatinya
(Haqqul Yakin), melalui ilmu yaqin dan ainulyaqin yang telah dicapai pada
maqam-maqam sebelumnya.
Kesimpulan
Tasawuf
ialah “Ilmu yang mengajarkan tentang kebersihan dan kesucian hati dengan
membersihkan diri dari sifat-sifat tercela serta menghiasinya dengan
sifat-sifat terpuji, sehingga hati yang bersih tersebut dapat melihat Allah
SWT”.
Sebagaimana
yang dirumuskan Imam Abu YazidAl-Busthami, “Inti ajaran Tasawuf ialah:
membersihkan diri dari akhlak yang tercela, menghiasinya dengan akhlak yang
terpuji serta melihat (dengan mata hati) terhadap Allah SWT Dzat Yang Mengatur
seluruh alam semesta”.
Untuk
mencapai tingkat tertinggi dari ajaran tasawuf tersebut, harus menempuh jalan
panjang yang terdiri dari beberapa tingkatan pengalam rohani yang lazim disebut
maqamat (station-station). merumuskan metode-metode atau
amalan-amalan yang telah ditempuhnya yang dikenal dengan istilah thariqah (tarekat). Yaitu dengan Melalui
latihan jiwa yang paling rendah ke paling tinggi, Melalui aktifitasdzikir,
Melalui jalan MartabahAth-Thariqah.
Tingkatan
tertinggi ajaran Tasawuf: ma’rifahkepada
Allah SWT dan penghayatan terhadap alam ghaib(kasyaf) serta memperoleh ilmu
ladunni (langsung dari Allah melalui kasyaf
tanpa belajar), serta seseorang yang mensucikan dirinya dari sifat-sifat
tercela, melenyapkan nafsu-nafsu yang bersemayam dalam dirinya, maka ia tidak
hanya mencapi tingkat ma’rifah kepada
Allah SWT, tetapi lebih jauh dari itu, ia dapat bersatu dengan-Nya, (ittihad) .
Meskipun
jalan (cara/metode/tarekat) yang ditempuh oleh para ahli tasawuf untuk mencapai
puncak kerohanian berbeda-beda, baik dari segi pendekatan maupun dari segi
jumlah station-station (maqamat)-Nya,
akan tetapi dapat ditarik keseragaman yang telah diakui kebenarannya oleh para
ulama tasawuf, yaitu :MaqamSyari’at,MaqamThariqat,
MaqamHakekat, MaqamMa’rifat.
DAFTAR PUSTAKA
Rasyid,
M.Hamdan, Dr.,KH.,MA. Pesona Kesempurnaan
Islam,Zahrapress, 2009. Hal 80-87.
Ibnu
‘AthaillahAl-Iskandari, SyarahHikam,
Juz 1 halaman 9-10.
1 komentar:
Semoga bermanfaat :)
Posting Komentar