Selasa, 06 Januari 2015

TASAWUF DAN TAREKAT DALAM AGAMA ISLAM



A. Pengertian Tasawuf
          Dilihat dari segi bahasa, Tasawuf berasal dari kata Shofa yang berarti bersih dan suci. Sedangkan menurut pengertian istilah, Tasawuf ialah “Ilmu yang mengajarkan tentang kebersihan dan kesucian hati dengan membersihkan diri dari sifat-sifat tercela serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, sehingga hati yang bersih tersebut dapat melihat Allah SWT”. Jadi Tasawuf merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari totalitas ajaran islam yang meliputi akidah, syari’ah dan akhlak (tasawuf). Ia merupakan ruh bagi agama Islam, karena ia mengajarkan kepada umat manusia agar berusaha memperoleh pengalam batin, rasa serta jiwa agama dengan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji serta melaksanakan amalan ibadah dengan khusu’ dan penuh peng-hayatan bukan hanya memenuhi segi-segi formalnya.
Di lihat dari aspek bahasa, tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana. Sikap dan jiwa yang demikian itu pada hakikatnya merupakan akhlak mulia. Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah atau pendapat para ahli amat bergantung kepada sudut pandang yang digunakannya masing-masing. Selama ini ada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendifinisikan tasawuf, yaitu sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, dan manusia sebagai makhluk yang berke- Tuhan-an. jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan kehidupan dunia, dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah SWT.
Selanjutnya jika sudut pandang yang digunakan manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan  jika sudut pandang yang digunakan manusia sebagai makhluk yang berke-Tuhan-an , maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai kesadaran fitrah ke-Tuhan-an yang dapat mengarahkan jiwa agar tertuju pada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan  Tuhan.





B. Sejarah Munculnya Tasawuf
Dalam Agama Islam terdapat 3 (tiga) ajaran pokok yang wajib diketahui, diyakini dan diamalkan oleh seluruh pemeluknya tanpa kecuali. Ketiga ajaran pokok tersebut adalah: Pertama,ajaran tentang keimanan (keyakinan dan kepercayaan) akan adanya Allah SWT. Dzat yang Maha Esa, para Malaikat, para Rasul, Kitab-Kitab Suci, Hari Kiamat serta Qadha dan Qadar Allah, yang dibahas oleh ilmu Ushuluddin (ilmu Akidah/Kalam/Tauhid). Kedua , ajaran tentang hukum-hukum formal yang mengatur tata cara beribadah kepada Allah SWT. (HablumMinallah) serta bermu’amalah antar sesama umat manusia (HablumMinannas) yang dipelajari oleh ilmu fiqih (Ilmu Syari’at), Ketiga, ajaran tentang kebersihan jiwa, kesucian hati serta keluhuran budi untuk mencapai ma’rifat kepada Allah SWT. Serta melihat Dzat-Nya dengan mata hati, yang dipelajari oleh ilmu Akhlak (Tasawuf).
Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (berbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi[butuh rujukan]. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia. Sufisme merupakan sebuah konsep dalam Islam, yang didefinisikan oleh para ahli sebagai bagian batin, dimensi mistis Islam, yang lain berpendapat bahwa sufisme adalah filosofi perennial yang eksis sebelum kehadiran agama, ekspresi yang berkembang bersama agama Islam. Dengan melihat perkembangannya maka akan jelas kehilatan warna tasawuf itu dalam setiap periode yang dilaluinya. Sebagai contoh, cikal bakal tasawuf itu hanya mengambil bentuk zuhud, tetapi dalam periode berikutnya, tasawuf telah nampak dalam bentuk kajian-kajian keruhanian yang mendalam sebagai hasil dari perkembangan pemikiran Islam.
Dari beberapa penjelasan definisi tasawuf di atas dapat ditarik benang merah bahwa pada dasarnya ajaran-ajaran tasawuf murni berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah. Seorang sufi adalah seorang yang konsisten mengerjakan dan berpegang teguh dengan syari’at Allah, mengekang hawa nafsunya pada makan, minum, cara berpakaian, dan hal-hal lainnya. Dalam perkara-perkara duniawi seorang sufi hanya mengambil kadar tertentu secukupnya. Ia habiskan setiap waktu dari kehidupannya dalam beribadah kepada Allah, dengan melaksanakan segala kewajiban-kewajiban, menjauhi segala larangan-langan-Nya dan memperbanyak perbuatan-perbuatan yang sunnah.  


Tahapan-Tahapan Ajaran  Tasawuf
Dalam Tasawuf ada ajaran-ajaran yang harus dilakukan yakni dengan tiga ajaran, Ketiga ajaran Tasawuf tersebut ialah :
1. Membersihkan diri dari sifat-sifat tercela serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Diantara sifat-sifat tercela yang harus dihindari ialah: riya’(pamer ingin dipuji manusia dalam beribadah dan berbuat baik), Ujub (mengagumi kehebatan diri sendiri), Takabur (sombong), Kadzib(bohong), Bakhil (pelit),  Munafiki, DzulWajhain (bermuka dua), Hasad (Iri hati), Tajassus(mencari kesalahan-kesalahan orang lain) dan sebagainya. Menurut para ahli Tasawuf , sifat-sifat tercela tersebut merupakan najis maknawi yang dapat menghalangi seseorang untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Sebagaimana halnya najis lahiriah  yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah sholat.
2. Menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, seperti ikhlas (beramal semata-semata karena Allah SWT), ridha (Rela terhadap pemberian Allah SWT.), syukur terhadap nikmat yang telah diberikan Allah SWT, sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Allah SWT, tawakkal (berserah diri kepada Allah SWT), tawadhu’ (rendah diri), amanah (terpercaya), adil, husnuzhzhan (berbaik sangka kepada Allah SWT. Dan sesama umat manusia), sakhawah (dermawan), zuhud (menhindari kemewahan dan berfoya-foya), dan sebagainya.
Para ulama tasawuf membagi ikhlas ke dalam tiga tingkatan. Sebagimana dijelaskan oleh Syekh Ibnu AthailahAl-Iskandar dalam kitabnya “SyarahHikam” Juz 1 halaman 9-10 sebagai berikut:
a.      Ikhlasnnya orang awam, yaitu amal perbuatan yang terhindar dari riya’ serta dilakukan semata-mata karena mengharapkan pahala (surga) dan diselamatkan dari neraka.
b.      Ikhlasnya para muhibbin (orang-orang yang mencintai Allah), yaitu amal perbuatan (ibadah) yang dilakukan semata-mata karena mengagungkan Allah SWT, -Karena Dia Dzat  yang berhak unuk di agungkan bukan karena ingin memperoleh pahala atau akut terhadap siksa.
c.      Ikhlasnya para ‘arifin (orang-orang yang telah mencapai ma’rifat kepada Allah SWT), yaitu amal perbuatan yang dilakukan semata-mata karena persaksian mereka (dengan mata hati) atas ke- Esa-an Allah SWT. Yang menggerakanserta mendiamkan diri mereka. Mereka merasa tidak memilih daya kekuatan, seluruh amal perbuatannya adalah semata-mata pertolongan Allah SWT.
3. Beribadah dengan khusyu’ dan penuh penghayataan, hingga mencapai pengalaman batin dan ruh (jiwa) beragama yang dapat mengantarkan hati untuk melihat Allah SWT.
Ketiga ajaran yang harus dilakukan oleh orang-orang yang yang ingin mencapai derajat kerohanian yang tinggi diatas, adalah merupakan inti ajaran tasawuf. Sebagaimana yang dirumuskan Imam  Abu YazidAl-Busthami, “Inti ajaran Tasawuf ialah: membersihkan diri dari akhlak yang tercela, menghiasinya dengan akhlak yang terpuji serta melihat (dengan mata hati) terhadap Allah SWT Dzat Yang Mengatur seluruh alam semesta”. 
  
 Metode-Metode Tasawuf (Tarekat)
Untuk mencapai tingkat tertinggi dari ajaran tasawuf tersebut, -yakni ma’rifat kepada Allah SWT dalam tasawuf sunni dan ittihaddalam tasawuf nonsunni-  bukanlah suatu hal yang mudah. Karena itulah orang yang ingin mencapainya harus menempuh jalan panjang yang terdiri dari beberapa tingkatan pengalam rohani yang lazim disebut maqamat (station-station). Untuk memudahkan kaum muslimin-muslimat dalam mencapai station-station tersebut,  maka para ulama tasawuf yang telah mencapai puncak pengalaman kerohanian diatas, merumuskan metode-metode atau amalan-amalan yang telah ditempuhnya yang dikenal dengan istilah thariqah (tarekat).
Ditinjau dari segi bahasa, thariqberarti jalan atau metode . Sedangkan menurut pengertian yang berkembang di kalangan ahli tasawuf, thariqadalah “jalan atau metode atau petunjuk untuk mendekatkan diri (bertaqarrub) kepada Allah SWT. Baik melalui aktifitasDzikir maupun amalan-amalan yang lain. Sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. “ Oleh karena metode-metode tersebut secara operasional dirumuskan oleh ulama ahli tasawuf, maka nama-nama thariqah tersebut dinisbatkan kepada mereka . Pada saat sekarang ini, jumlah thariqah tidak kurang dari 40 buah. Diantaranya yang palling terkenal ialah : thariqahNaqsyabandiyah, ThariqahQadariyah, ThariqahSyadziliyah, dan sebagainya.
Aktifitasdzikir tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara ThariqatNaqsyabandiyah misalnya, lebih mengutamakan penyebutan lafadz Allah di dalam hati tanpa ada suara yang keluar (dzikirkhafi). TharikatQadiriyah mengajarkan penyebutan lafadz Allah dengan suara (dzikirjahri).  Sedangkan TharikatSyadziliysh lebih mengutamakan dzikirnaïf (meniadakan selain Allah) dan itsbat (menetapkan adanya Allah) dengan lafadz :La IllahaIllallah. Semua dzikir tersebut dilakkukan sedemikian rupa, sehingga mengalir keseluruh bagian tubuh, sebagaimana mengalirnya darah dalam tubuh kita.
Para ulama tasawuf berbeda-beda dalam menempuh jalan (thariqah) untuk mencapai tingkat tertinggi ajaran tasawuf, baik dalam pendekatan maupun dalam merumuskan beberapa tingkatan-tingkatan pengalaman rohani (station-statio/maqamat). Diantarathariqah yang dipergunakan untuk mencapai tingkat tertinggi ajaran tasawuf ialah :
1)     Melalui latihan jiwa yang paling rendah yang disebut dengan Nafsu Ammarahke tingkat Nafsu Lawwamah,meningkat ke Nafsu Muth’mainnah, kemudian ketingkatNafsu Mulhamah, kemudian naik ke Nafsu Mardhiyah, dan akhirnya sampai ketingkatNafsu Kamaliyah.
2)     Melalui aktifitasdzikir, yang meningkatkan diri maqam(station) paling rendah ke maqam yang paling tinggi. Dimulai dari maqam ihsan, meningkat kepada maqamahadiyah, meningkat ke maqamilmiyah, meningkat ke maqamfa’iliyah, kemudian maqammalakiyah meningkat ke maqamhayatiyah dan akhirnya ke maqammahbuyah, yang dapat membawa sesorang ke maqammuraqabatu tauhid syuhudi, dimana seseorang dapat melihat Allah dengan mata hatinya.
3)     Melalui jalan MartabahAth-Thariqah, yang terdiri dari beberapa maqam (station), meliputi : zuhud, sabar, tawakkal, ridha, mahabbah, dan ma’rifah.


C. Tingkatan Tasawuf
          Dalam tingkatan Tasawuf, para ahli tasawuf berbeda pendapat tentang tingkatan tertinggi yang dapat dicapai oleh seseorang yang bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.
1)     Menurut para ahli tasawuf sunni,- seperti Imam Al- Gazali dan Al-Junaidi – tingkat tertinggi yang dapat dicapai sesorang dalam bertaqarrub kepada Allah SWT adalah ma’rifahkepada Allah SWT dan penghayatan terhadap alam ghaib(kasyaf) serta memperoleh ilmu ladunni (langsung dari Allah melalui kasyaf tanpa belajar). Faham ini masih mempertahankan sendi dasar ajaran tauhid yang membedakan danya dua pola wujud, yakni  wajib al-wujud (Tuhan) dan  mukmin al-wujud(makhluk) dua wujud secara fundamental berbeda, serta prinsip ketidak serupaan manusia dengan Tuhan.
2)      Menurut ahli tasawuf nonsunni, -Seperti Al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi dan Syeh Siti Jenar- seseorang yang mensucikan dirinya dari sifat-sifat tercela, melenyapkan nafsu-nafsu yang bersemayam dalam dirinya, maka ia tidak hanya mencapi tingkat ma’rifah kepada Allah SWT, tetapi lebih jauh dari itu, ia dapat bersatu dengan-Nya, (ittihad) . Karena di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal darai zat Allah ( lihat surah Al-Hajr ayat 29, As-Sajdah ayat 9 dan Shaad ayat 72). Faham ini disebut DahamWahdatul Wujud ( kesatuan wujud manusia denga Tuhan/ ManunggalingKawuloLan Gusti ).

Meskipun jalan (cara/metode/tarekat) yang ditempuh oleh para ahli tasawuf untuk mencapai puncak kerohanian berbeda-beda, baik dari segi pendekatan maupun dari segi jumlah station-station (maqamat)-Nya, akan tetapi dapat ditarik keseragaman yang telah diakui kebenarannya oleh para ulama tasawuf, yaitu :

1). MaqamSyari’at, Pada maqam ini, seseorang mukmin telah berusaha mempelajari dan mengamalkan hukum-hukum formal yang mengatur tata cara beribadah kepada Allah SWT serta bermu’amalh dengan sesama umat manusia.
2). MaqamThariqat.Padamaqam ini seorang mukmin telah berusaha meningkatkan ibadah dan mu’amalahnya dari sekedar memenuhi tata cara formal, menuju tingkat hakekat. Hal ini harus dilakukan dengan petunjuk dan bimbingan guru thariqat (mursyid) yang akan menunjukan segala rahasia amal ibadah dengan melakkukan latihan &riyadhah dalam berbagai persoalan agama.
3). MaqamHakekat.  Pada maqam ini, seorang mukmin telah mengetahui dan mengamalkan hakekat ibadah dan mu’amalah, sehingga memiliki keimanan yang mantap yang mengantarkannya pada maqam ma’rifat.
4). MaqamMa’rifat.  Pasamaqam ini, seorang mukmin telah mengenal, mengetahui serta melihat Allah dengan mata hatinya (Haqqul Yakin), melalui ilmu yaqin dan ainulyaqin yang telah dicapai pada maqam-maqam sebelumnya.

Kesimpulan

Tasawuf ialah “Ilmu yang mengajarkan tentang kebersihan dan kesucian hati dengan membersihkan diri dari sifat-sifat tercela serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, sehingga hati yang bersih tersebut dapat melihat Allah SWT”.
Sebagaimana yang dirumuskan Imam Abu YazidAl-Busthami, “Inti ajaran Tasawuf ialah: membersihkan diri dari akhlak yang tercela, menghiasinya dengan akhlak yang terpuji serta melihat (dengan mata hati) terhadap Allah SWT Dzat Yang Mengatur seluruh alam semesta”. 
Untuk mencapai tingkat tertinggi dari ajaran tasawuf tersebut, harus menempuh jalan panjang yang terdiri dari beberapa tingkatan pengalam rohani yang lazim disebut maqamat (station-station). merumuskan metode-metode atau amalan-amalan yang telah ditempuhnya yang dikenal dengan istilah thariqah (tarekat). Yaitu dengan Melalui latihan jiwa yang paling rendah ke paling tinggi, Melalui aktifitasdzikir, Melalui jalan MartabahAth-Thariqah.
Tingkatan tertinggi ajaran Tasawuf: ma’rifahkepada Allah SWT dan penghayatan terhadap alam ghaib(kasyaf) serta memperoleh ilmu ladunni (langsung dari Allah melalui kasyaf tanpa belajar), serta seseorang yang mensucikan dirinya dari sifat-sifat tercela, melenyapkan nafsu-nafsu yang bersemayam dalam dirinya, maka ia tidak hanya mencapi tingkat ma’rifah kepada Allah SWT, tetapi lebih jauh dari itu, ia dapat bersatu dengan-Nya, (ittihad) .
Meskipun jalan (cara/metode/tarekat) yang ditempuh oleh para ahli tasawuf untuk mencapai puncak kerohanian berbeda-beda, baik dari segi pendekatan maupun dari segi jumlah station-station (maqamat)-Nya, akan tetapi dapat ditarik keseragaman yang telah diakui kebenarannya oleh para ulama tasawuf, yaitu :MaqamSyari’at,MaqamThariqat, MaqamHakekat, MaqamMa’rifat.



DAFTAR PUSTAKA

Rasyid, M.Hamdan, Dr.,KH.,MA. Pesona Kesempurnaan Islam,Zahrapress, 2009. Hal 80-87.

Ibnu ‘AthaillahAl-Iskandari, SyarahHikam, Juz 1 halaman 9-10.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Semoga bermanfaat :)

Islam Mosque